Jumat, 01 Maret 2013

Untuk Satu Kesempatan

Untuk Saudaraku, Mas Sinyo... Suatu ketika aku bertemu dengan seorang narasumber yang luar biasa. Dia memiliki semua yang ingin dimiliki semua orang. Kaya, sukses dalam karir, disegani dan punya kuasa. selain itu, ia juga baik, pemurah dan dermawan, santun, dan sejutasifat baik lainnya, dalam hidupnya punya istri cantik, anak anak sehat dan berbakti. Diluar pertanyaan tugas, aku bertanya, apakah dalam hidupnya yang sangat diinginkannya, mengingat semua yang sudah ia miliki. aku bertanya apakah ada yang membuatnya iri karena orang lain punya sementara ia tidak. Laki-laki itu menjawab:" ADA. saya sangat menginginkan satu kesempatan yang tidak saya miliki seumur hidup saya, yaitu menyuapi ibu saya". Lelaki itu bercerita: Ia dibesarkan dari seorang ibu yang sudah menjanda sejak ia berumur enam tahun, sejak itu ibunya berjuang sendiri membesarkan ia dan tiga kakaknya, sayangnya sang ibu dipanggil Tuhan ketika ia masih kuliah tingkat dua. ''sekarang saya punya semuanya, namun saya tidak sempat membalassetets saja keringat ibu saya, padahal banyak tempat yang dulu sangat ingin kami datangi namun tidak bisa karena terbatasnya biaya, sekarang saya sangat ingin mengajak ibu kesana, namun Ibu yang sudah tiada" menghela nafasnya ia berkata: Rin..andai Tuhan beri saya kesempatan, saya akan minta sehari saja bersama ibu saya, saya ini menyuapinya dengan tangan ini, dengan makanan dari kerja keras saya dan mengendongnya seperti ia dulu mengendong saya. Dan kalau itu sudah terlaksana..maka saya Ikhlas melepaskan nyawa saya. Mas Sinyo.... Aku juga punya seorang Ibu, alhamdulillah sampai hari ini beliau masih diberi kesehatan, tentunya sering sakit juga khasnya orang tualah. Saya senang walaupun belum bisa membuat beliau bahagia dengan harta saya, setidaknya Bintang masih diberi kesempatan merasakan kasih sayang neneknya dan saya mencoba membahagiannya walau dengan kemampuan waktu dan materi terbatas yang saya bisa Namun dalam hati saya mas, saya merindukan ayah saya, ayah yang meninggal saat saya seminggu akan ujian sarjana. Saat itu ayah saya sakit dan melarang saya menjagainya di rumah sakit dengan alasan agar saya kosntrasi kuliah. Ayah juga menyatakan akan menyaksikansaya diwisuda karena ia bangga punya anak sarjana. Sayang..Beliau tidak bisa menyaksikannya karena janjinya pada Tuhan sudah mendekati deadline. saya sangat sedih karena wisuda saya menjadi wisuda yang kelam tanpa ayah. Saat menikah saya juga sedih, karena bukan ayah yang walinya. Andai diberi kesempatan..aya ingin bersama Ayah..sesaat saja. Mendengarkan petuahnya, memijit kakinya seperti saat kecil dulu...atau sekedar membuatkannya segelas teh... Andai satu kesempatan itu ada...maka alangkah bahagianya..., maka nikmat Tuhan yang manakah yang harus kita dustakan.... salam sayang dari kami selalu..untukmu mas, bunda dan seluruh keluarga disana Me dan Bintang

Design by Amanda @ Blogger Buster