Jumat, 25 Februari 2011

Polisi Pemukul Warga DiCopot Jabatannya

*Polisi Jamin Biaya pengobatan Korban

Tiga polisi yang memukuli warga Zulkifli (48 th) di pasar Airtiris Rabu (23/2) yang akhirnya menimbulkan aksi massa di Mapolsek mulai mendapatkan ganjarannya, walaupun proses pemeriksaan terhadap mereka belum selesai namun sanksi yang diterapkan sudah didepan mata,. Salah satunya Ipda ECakhirnya dicopot jabatannya dari Kanit reskrim Polsek Kampar ‘’Saat ini belum ada keputusan akan kemana atau akan apa setelah ini karena masih dalam proses penyidikan, hanya saja yang pasti jabatannya sebagai Kanitreskrim sudah dicopot dan dilepas ‘’ujar Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien melalui Kasubag Humas Polres Kampar AKP H Khodirin di Bangkinang (25/2)

Dijelaskan Khodirin untuk mengisi jabatan Kanitreskrim di Polsek Kampar digantikan oleh Aipda Sahir yang sebelumnya menjabat sebagai Kanit polsek Tambang, EC sendiri saat ini masih dalam tahanan khusus polres Kampar dan proses penyidikan ini dilakukan oleh Propom Polda Riau.

Sedangkan dua rekannya yang lain yaitu ME dan AD tidak dicopot dari jabatan namun dikenai sanki administrasi, hal ini disebabkan karena dua personil ini adalah bawahan dari EC yang tentunya hanya menerima perintahs saja, selain itu dari hasil pemeriksaan sementara terhadap korban pemukulan hanya dilakukan oleh satu orang saja.

‘’dan keduanya juga masih ditahan dalam proses penyidikan lebih lanjut untuk bisa menuntaskan kasus ini secara baik dan adil ‘’ujarnya.

Untuk imformasi tiga personil ini telah melakukan aksi salah tangkap orang dalam kegiatan razia pekat pada Rabu (23/2) yang lalu di pasar Aitiris, mereka menangkap pedagang elektronok dan alat pancing zulkif,li (48) warga desa Bukit Ranah kecamatan Kampar, penangkapan ini dengan tuduhan bahwa Zulkifli adalah penjual sie djie, dalam aksi ini juga polisi menangkap dengan cara paksa dan memukuli Zulkifli tanpa ada bukti yang jelas, bukan hanya itu Zul juga diperlakukan dengan tidak manusiawai, sikap polisi ini memicu kemarahan warga dan membuat aksi melempari kantor mapolsek Kampar hingga rusak parah, Sementara untuk anggota polisi yang melakukan penembakkan juga saat ini masih diadakan penyidikan.

Polisi Biayai korban pukul dan korban tembak

Sementara itu untuk Zulkifli yang dirawat dirumah sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Khodirin menyatakan seluruh biaya perawatan akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak kepolisian hingga Zul dinyatakan dapat pulang ke rumah, begitu juga dengan pembiayaan untuk Ibeth alias Idris yang merupakan korban tembak dalam aksi massa tersebut.

Ibeth sendiri mendapatkan tembakan di tangannya saaat bergabung dengan massa yang melempari kantor tersebut , Ibeth menurut Khodirin saat ini kondisinya sudah membaik dan tinggal menunggu masa pemulihan dan dalam beberapa hari lagi akan bisa kembali pulang ke rumah. ‘’Untuk seluruh pembiayaan kita yang akan menanggungnya ‘’ujarnya***

Kamis, 24 Februari 2011

Zul Dipukul dan Diangkut seperti Binatang

(Pengakuan korban pemukulan polisi Kampar)


Kondisi Zukifli (48 th) warga desa Bukit Ranah yang ditangkap dan dipukuli anggota Polsek Kampar sudah membaik ketika rdh membezuknya di rumah sakit umum daerah (RSUD) Bangkinang (24/2) kemarin, ditengah banyak tamu dan pengunjung yang menjenguknya Zul mencoba duduk dikasurnya ‘’Soalnya kalau berbaring terus dada saya sakit dans esak ‘’ujarnya.


Diceritakan oleh pedagang eletronik dan alat pancing ini, sore itu rabu (23/2) ia sedang buang hajat ke WC umum dipasar Airtiris tempanya berjualan dan merencanakan usai itu akan memgambil whuduk untuk sholat asyar, namun usai whuduk ketika ia menaiki sepeda motornya menuju Kedainya tiba tiba datang polisi dan menghentikan langkahnya ‘’Mereka mematikan mesin sepeda motor saya dan berkata ’’pak kami dari polisi ingin membawa bapak ke kantor polisi, untuk pemeriksaan soal sie djie ‘’ujarnya


Saat itu Zul yang kaget menyatakan heran dan berkata ‘’ada apa ni pak, saya banyak kerja karena kedai tidak ada yang jagain, saya tidak bersalah ‘’ujarnya


Salah satu polisi yaitu Aipda Ade Chandra yang merupakan Kanitreskrim Polsek Kampar malah marah dan memelintir tangannya ke belakang, Zul mengaku merasa sakit sekali dan menunduk, saat itu tiba tiba hantaman tangan mengenai rahangnya dan ia merasa ada darah segar keluar dari mulutnya, zul juga merasakan ada hantaman dibagian tubuhnya yang lain. ‘’saat itu saya minta tolong namun tidak ada yang berani menolong saya ‘’ujarnya


Karena dipukul Zul akhirnya jatuh ke tanah, ia merasa kaki Adi Chandra menginjak punggungnya untuk mengunci badan Zul agar tidak lari, iapun diangkat ke atas sepeda motor dan kakinya diikat, Zul mengaku badanya dilintangkan diatas sepeda motor dan dua polisi menaiki sepeda motor itu membawanya ke mapolsek Kampar. Warga sudah mulai banyak menonton dan lagi-lagi Zul berteriak minta tolong dengan memelas.


Sampai di Mapolsek Kampar Zul mengaku baju dan celananya dibuka paksa oleh polisi dan mereka meriksa semua saku dan dompetnya, kertas catatan penjualan alat pancingnya juga diperiksa namun mereka tidak menemukan adanya bukti bahw Zul penjual sie jie


Akhirnya warga yang tadi melihatnya berdatangan ke Mapolsek dan meminta agar Zul dilepaskan, saat itu jumlahnya hanya dekitar 30 orang saja, salah satu warga yaitu Darussalam meminta agar polisi membebaskan ‘’Karena bapak sudah menangkap yang bersalah ‘ ujarnya


Akhirnya zul dibebaskan, usai dibebaskan Zul kembali ke kedai milikanya dan meminta keluarganya mencari kendaraan, barulah mereka menuju ke RSUD Bangkinang Sementara itu warga mendatangi ma;polsek Kampar hingga akhirnta terjadi rusuh

Istri Zul, Helma (43 th) mengakui saat kejadian itu ia sedang menjahit diurmah karena ia memang selain rumah tangga Helma menerima jahitan untuk membantu suaminya, tiba tiba datang tetanggayang mengabarkan suaminya ditangkap karena dituduh menjual si jie ‘’saya kaget dan berkata mustahil, karena suami saya hanya punya rute antara rumah-kedai-rumah dan mesjid jadi… tidak munkin ;’’ujarnya


Bersama dengan tetangganya ia menuju ke Mapolsek dan melihat warga sudah banyak, awalnya Helma tidak diberi izin brtemu dengan suaminya namun karena Helma menangis dan menjerit jerit disitu akhirnya Helma diziinkan melihat suaminya ;’Saya kaget karena mukan leban dan mulutnya berdarah ‘’ujarnya


Helma juga sedih karena menurut pengakuan warga yang lain, suaminya dibawa ke Mapolsek sebagaimana layaknya membawa binatang, ‘’biasanya orang bawa anjing atau babi dengan cara diguling tersebut, badannya dilintangkan ke jalan dan diangkut dengan sepeda motor ‘’ujarnya sedih.


Sesampainya di RSUD, Helma mengaku didatangi kapolres Kampar dan akhirnya mereka menuju ke Mapolres Kampar ;’’Saya kesana untuk memastikan bahwa pelaku memang sudah ditahan dan saya lihat polisi itu Adi Chandra memang sudah ditahan, pagi ini saya mau cek lagi…. Jangan-kagan sudah dibebaskan namun tidak sempat karena sibuk banyak tamu yang datang ‘’ujarnya, namun ia akan memantau terus dan tidak rela kalau pelaku yang memukuli suaminya sampai dibebaskan.

Ibu dari dua anak ini, M Rezi zulkarnain (13 th) dan Siti hajar (9 th) merencanakan akan menuntut tindakan polisi tersebut ke jalur hukum, karena menurutntya tidak manusiawi.

Untuk kondisi Zul debenarnya dokter sudah mengizinkan suaminya dirawat dirumah namun mereka memilih masih tinggal dirumah sakit tersebut. ‘’suami saya masih sering sakit didadanya dan kami juga harus berunding dulu dengan warga, mereka sudah mendukung dan menolong kami maka kami juga tidak mau begitu saja ambil keputusan ‘’ujarnya ****

Selasa, 22 Februari 2011

Koika Korea Bangun Pusat Pengolahan Limbah Kelapa Sawit di Polkam Kampar


Dijadualkan dalam waktu dekat kumpulan massyarakat dan cendikiawan peduli lingkungan dari negara ginseng Korea yang tergabung dalam Kioka Korea akan segera membangun pusat pengolahan limbah kelapa sawit yang lokasinya dipusatkan di komplek kampus Piltehnik Kampar (Polkam) dipinggir ruas jalan lingkar Bangkinang.


Kegiatan pembangunan pusat pengolahan limbah kelapa sawit tersebut dilakukan dalam bentuk kerjasama antara pihak Pemdakab Kampar dan pihak Koika Korea, dimana pihak Pemdakab Kampar akan menyalurkan dana sebesar lebih kurang Rp 4 Milyar dan pihak Kioka Korea akan mengucurkan dana sebesar U$ 2.500.000. Tujuan pembangunan pusat pengolahan limbah kelapa sawit tersebut tersebut sedikitnya ada empat yakni untuk kepentingan pendidikan (education), pemberdayaan masyarakat, kepentingan lingkungan (ekosistem) dan untuk tujuan komersial berupa produk yang dihasilkan dari pengolahan limbah kelapa sawit berupa produk utama yakni pupuk yang dapat diperjualbelikan.


Demikian diungkapkan Bupati Kampar, Drs H Burhanuddin Husin, MM pada acara menerima kunjungan tamu dari Korea dalam rangka pembicaraan lanjutan kegiatan pembangunan pusat pengolahan limbah kelapa sawit pada lahan seluas 3000 meter persegi yang berada dilahan kompleks Polkam Kampar yang hingga setakat ini memiliki lahan seluas 22,5 Ha.


Hadir pada acara tersebut diantaranya Sekdakab Kampar, Drs H Zulher, MS, Kepala Bappeda Kampar, Ir H Nurahmi, MM, Kepala BLH Kampar, Drs M Yasir, MM, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kampar, Ir H Basri Rasyid, MT, Kadis Peridang Kampar, Hj Eliberti, SE, Direktur Polkam dan para dosen, Direktur PDAM Tirta Kampar, H Tasnur, SE, 4 orang wakil dari pihak Koika Korea dibawah pimpinan Bong-Jae Yoo yang juga team maneger Consulting Dept/International Developmen Dept- Seul-Korea, wakil dari PT Sinar Mas Group, PT Bangun Tenera Riau, PT Wahana Buana Lestari, PT Sewangi Sejati Luhur, PT Riau Kampar Sahabat Sejati, PT Arindo dan PT Karya Indratama.


Dari pertemuan dan diskusi yang berlangsung dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Korea tersebut terungkap bahwa selama ini limbah cair dari hasil pengolahan CPO di PKS-PKS terbuang secara percuma dan menjadi limbah pabrik atau tepatnya limbah PKS, padahal limbah cair tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk. Produk biodiesel dan juga berupa biogas.


Khusus kepada pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sudah mengolah buah sawit menjadi CPO atau tepatnya melalui proses pengolahan di PKS yang hadir pada acara tersebut diminta Bupati Kampar untuk memberikan dukungan dalam bentuk menyediakan secara cuma-cuma limbah cair dari limbah pengolahan CPO. Termasuk kesediaan untuk menyediakan tandan buah sawit berupa ‘tangkus’ untuk bahan baku. Kesediaan memberikan secara Cuma-Cuma limbah cair dan tangkus tersebut oleh masing-masing perusahaan atau PKS harus dibuat dalam bentuk tertulis untuk kelangsungan operasional pusat pengolahan limbah kelapa sawit tersebut, tegas BUrhanuddin Husin, MM.


Bila beroperasi kelak maka pusat pengolahan limbah kelapa sawit tersebut memerlukan bahan baku berupa 10 Ton limbah cair perhari, tangkus sawit 100 kg per hari, abu 50 kg per hari, dan dedak 100 kg per hari. Sedangkan produk yang dihasilkan perhari dalam bentuk pupuk minimal 2 Ton per hari. Kedepan diharapkan Kampar akan menjadi pelopor dalam hal penyelamatan lingkungan seperti sungai yang selama ini ternyata banyak tercemar oleh limbah pabrik. Dan bila limbah pabrik berupa limbah cair dari hasil pengolahan CPO diolah kembali, maka pencemaran akibat limbah pabrik akan semakin dapat dikurangi dan bahkan pada saatnya kelak limbah pabrik yang mengikbatkan berbagai pencemaran lingkungan itu dapat dihilangkan sama sekali, ujar Burhanuddin Husin (rdh)

Design by Amanda @ Blogger Buster