Selasa, 23 Maret 2010

Jadikan Gambir sebagai Primadona di XIII Koto Kampar selain karet

Usaha XIII Kota kampar Keluarkan diri dari Kemiskinan

Kecamatan Kampar merupakan kecamatan termiskin ke dua di kabupaten kampar setelah kecamatan Kampar Kiri hulu, untuk itu pemerintah beserta kecamatan berusaha untuk keluar dari kemiskinan itu salah satunya beralih dari karet ke Gambir, dan dalam beberapa tahun saja Gambir menjadi primadona. Karena Gambir tidak seperti karet yang membuat pendapatan masyarakat turun naik karena kondisi cuaca.

Selain itu saat ini XIII Kota kampar merupann kecamatan dengan poduksi terbanyakl di Kampar saat ini harga ekstrak getah Gambir yang sudah diolah mencapai Rp. 32 Ribu/Kg, sementara untuk harga daunnya mencapai Rp. 1900/Kg, sehingga saat ini Gambir menjadi primadona di Kecamatan tersebut.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gambir Lembah Hijau, Kasmansyah dalam perbincangannya dengan Riaupos di Bangkinang (18/3). Dia menjelaskan, Gambir adalah nama tumbuhan atau getah yang dikeringkan berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.).’’



Selain mudah diolah, tanaman Gambir juga tidak mempunyai hama dan jarang ditemukan penyakit yang dapat mematikannya seperti jeruk ‘’ujarnya.

Gambir tidak hanya sebatas komoditas perkebunan belaka, dalam artian komoditas hulu. Berbagai olahan dan diversifikasi Gambir mampu meningkatkan nilai tambah dalam komoditas ini. Selain sebagai pencampur makan sirih, Gambir dapat disulap menjadi bahan penolong industri farmasi, penyamak kulit, minuman, cat, dan lain-lain. Melihat potensi yang besar ini, sangat disayangkan jika pertumbuhan atau produksi Gambir masih rendah.


Dari pemahamannnya, Kasmansyah mengaku prospek pengembangan tanaman Gambir dalam skala luas dan berorientasi agribisnis dan agroindustri masih sangat terbuka. Hal ini pun didukung oleh ketersediaan sumber daya seperti lahan yang cukup, iklim yang sesuai, dan tenaga kerja yang banyak. “Pengembangan industri hilir atau pascapanen melalui diversifikasi produk berbasis Gambir akan memberikan nilai tambah pada komoditas ini. Antara lain, formulasi obat, kosmetika herbal, perekat kayu, papan artikel, pestisida nabati, dan menghasilkan katecin,” sambungnya.


Di sisi lain, ia mengakui jika produktivitas yang rendah menjadi masalah utama dalam pengembangan Gambir. Dijelaskannya, produktivitas Gambir berkisar antara 400 kg- 600 kg per ha. Sementara sepatutnya bisa mencapai 2.100 kg getah kering per ha. Rendahnya produktivitas Gambir disinyalir karena teknik budidaya yan masih tradisional, belum menggunakan varietas Gambir yang unggul berkualitas, dan pemupukan serta pemeliharaan yang belum memadai. Cara dan alat panen pun menjadi salah satu faktornya selain pengolahan hasil yang belum efektif dan efisien. “Dan ini perlu komitmen pemerintah untuk memberdayakan masyarakat petani sehingga ada peningkatan produksi yang bermuara kepada peningkatan pendapatan,“ sebut Kasmansyah.


Kasmansyah juga menyinggung masalah sulitnya mendapatkan perizinan dari pemerintah saat ada investor berusaha mendirikan pabrik pengolahan daun Gambir milik masyarakat.“Ini terasa kontradiktif dengan keinginan pemerintah mendatangkan investor dengan pelayanan cepat dan mudah,” sebutnya


Menurutnya, saat ini sudah ada sebuah pabrik yang berdiri didesa Gunung Bungsu hasil kerja keras pengurus Gapoktan Lembah Hijau dengan investor, namun belum berjalan optimal karena terbentur masalah izin yang menurut Kasmansyah sangat berat dan terkesan dipersulit “ Jika ini dibiarkan terus menerus akan menggerogoti wibawa pemerintah dan membuat investor lain akan sulit berinvestasi didaerah ini,” Ujar Kasmansyah sengit tanpa mau menyebutkan pihak-pihak yang telah mempersulitnya


Sementara itu, Tony, salah seorang petani Gambir didesa Tanjung menyampaikan dengan harga Gambir sekarang petani sangat diuntungkan bahkan melebihi harapan yang diinginkan “ Dulu Harga Gambir hanya berkisar sepuluh ribu sampai 16 ribu paling tinggi. Namun dengan harga seperti sekarang baik menjual daunnya ataupun diolah sendiri juga menguntungkan apalagi dimusim hujan ini petani yang punya kebun karet tidak dapat menyadap karetnya” sebut Tony yang juga Ninik Mamak ini (rdh)

Design by Amanda @ Blogger Buster