Selasa, 22 Juni 2010

Dana Gharim dan Imam di Kampar Mesjid Disunat

Setelah kasus adanya dugaan penyimpangan dana SPPD fiktif, kejaksaan negeri (Kajari ) Bangkinang kembali memeriksa adanya penyalahan gunaan anggaran, kali ini adalah adanya dugaan penyunatan dana insentif yang diberikan kepada Gharim (penjaga mesjid), imam mesjid serta para guru mengajai yang harusnya mendapatkan dana insenth sebesar rp 100 ribu/bulan yang dibayarkan setiap semester atau pertahun


 

''Dari penyidikan sementara ini ditemukan adanya dugaan penyunatan dana tersebut sehingga para gharim dan imam mesjid serta guru mengaji tidak menerima sebagaimana mestinya 'ujar Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bangkinang Suluh Damadi, SH di Bangkinang (21/6)


 

Dijelaskannya penyunatan dana gharim ini terjadi pada tahun 2007 dan 2008 yang lalu namun pihaknya saat ini masih melakukan penyidikan yang mendalam terhadap para gharim dan guru mengaji tersebut, dari pengakuan saksi bahwa mereka hanya menerima sekitar Rp 600 ribu, Rp 800 ribu sementara yang tertera di kwitansi mereka menerima uang sebessar Rp 1,2 juta


 

Pihaknya menurut Suluh memeriksa saksi dalam jumlah yang besar mengingat jumlah gharim dan guru mengaji di Kampar juga sangat banyak, untuk itu pihaknya memanggil saksi berdasarkan kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar, dalam minggu ini pihaknya akan memanggil saksi dari kecamatan Bangkinang Barat sebelumnya pemeriksaan saksi dari kecamatan Kampar Timur yang terdiri dari para gharim, imam mesjid dan guru mengaji.


 

Namun pihaknya belum bisa menyebutkan siapa tersangka dalam kasus ini dan berapa jumlah kerugian negara dalam kasus ini karena masih dalam penyidikan, dana ini sendiri disalurkan pemerintah Kampar melalui Badan Sosial Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat (BSPPM ) Kampar.


 

Sementara itu salah satu guru mengaji AK dari kecamaatan Kampar Timur menyatakan dirinya memang dipanggil kejaksaan dalam minggu lalu, saat itu ia merasa kaget saat dipanggil karena tidak tahu menahu soal ini. ''Soal bantuan itu sendiri saya juga tidak tahu saya hanya menerima amplop yang berisikan bantuan ''ujarnya. Menurutnya tahun 2007 ia hanya menerima Rp 600 ribu dan tahun 2008 tidak menerima sama sekali namun dalam ampra penerimaan ia menerima sejumlah Rp 1,2 juta ***


 

Ayah Cabuli Anaknya selama Dua tahun

Rupanya akal sehat sudah jauh menghilang dari fikiran Novarius menpora (34) warga desa dusun II sungai Putih desa Kualu Nenas kecamatan Tambang, selama dua tahun ia menggauli anaknya selayaknya suami istri, anaknya yang bernama melati (bukan nama sebenarnya) yang masih berusia 13 tahun adalah anak tirinya yang juga keponakannya, karena sebelum menikah denganya, Ibu Melati NRS adalah Kakak Iparnya sendiri yang ditinggal suaminya dan akhirnya dinikahi Navarius.


 

Di Mapolsek Tambang Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien melalui Kapolsek Tambang AKP Dedy Safriady (22/6) menceritakan kejadian ini bermula dari kecurigaan ibu Melati melihat perubahan fisik anaknya, selain itu tingkah Melati yang pendiam dan seakan akan menyimpan suatu rahasia membuatnya penasaran, maka dia berusaha membujuk Melati untuk bercerita, setelah dibujuk bujuk akhirnya (21/6) Melatipun bercerita kalau ia sudah digauli ayah Tiri sekaligus pamannya selama dua tahun dan itu dikerjakan di kebun karet milik mereka. ''karena keluarga ini mempunyai delapan anak dengan enam anak dari suami pertama membuat ibunya sibuk mengurusi anaknya dan Melatilah yang diminta membantu ayahnya tersebut, ternyata bantuan Melati tidak hanya menyadap karet saja tapi juga untuk memuaskan nafsu birahinya.


 

Melati sendiri menjelaskan kejadian ini bermula dari Oktober 2008, saat itu ayahnya memaksa untuk memuaskan nafsunya usai menyadap karet, Melati yang menolak dipaksa dan diancam akan dibunuh termasuk adik-adiknya, ini membuat melati ketakukan dan akhirnya menurut saja, sejak ituMelati berubah menjadi anak yang pemurung. Sayangnya kejadian ini berulang terus menerus di lokasi yang sama.


 

Kejadian terakhir adalah jumat (18/6) saat ibunya sudah sangat curiga melihat sikap anaknya pulang dari kebun, Melatipun menceritakan semuanya yang membuat ibunya kaget dan langsung melapor ke Mapolsek Tambang, oleh pihak kepolisian dilakukan visum dan dari hasil vsum ternyata Melati memang sudah tidak perawan lagi dan tidak ada bekas luka artinya perbuatan itu sudah lama dilakukan dan berulang kali, akhirnya polsek Tambang meringkus sepelaku ''Awalnya dia tidak mengakui namun setelah ditunjukkan bukti dan saksi akhinrya mengaku juga ''ujar dedy


 

Untuk itu dedy berharap para orang tua terutama para ibu tidak begitu sama mempercayai anak perempuannya ya pergi bersama laki-laki walaupun ayah atau keluarga yang lain, karena bisa saja kejahatan terhadap sianak ****

Ayah Cabuli Anaknya selama Dua tahun

Rupanya akal sehat sudah jauh menghilang dari fikiran Novarius menpora (34) warga desa dusun II sungai Putih desa Kualu Nenas kecamatan Tambang, selama dua tahun ia menggauli anaknya selayaknya suami istri, anaknya yang bernama melati (bukan nama sebenarnya) yang masih berusia 13 tahun adalah anak tirinya yang juga keponakannya, karena sebelum menikah denganya, Ibu Melati NRS adalah Kakak Iparnya sendiri yang ditinggal suaminya dan akhirnya dinikahi Navarius.

Di Mapolsek Tambang Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien melalui Kapolsek Tambang AKP Dedy Safriady (22/6) menceritakan kejadian ini bermula dari kecurigaan ibu Melati melihat perubahan fisik anaknya, selain itu tingkah Melati yang pendiam dan seakan akan menyimpan suatu rahasia membuatnya penasaran, maka dia berusaha membujuk Melati untuk bercerita, setelah dibujuk bujuk akhirnya (21/6) Melatipun bercerita kalau ia sudah digauli ayah Tiri sekaligus pamannya selama dua tahun dan itu dikerjakan di kebun karet milik mereka. ‘’karena keluarga ini mempunyai delapan anak dengan enam anak dari suami pertama membuat ibunya sibuk mengurusi anaknya dan Melatilah yang diminta membantu ayahnya tersebut, ternyata bantuan Melati tidak hanya menyadap karet saja tapi juga untuk memuaskan nafsu birahinya.

Melati sendiri menjelaskan kejadian ini bermula dari Oktober 2008, saat itu ayahnya memaksa untuk memuaskan nafsunya usai menyadap karet, Melati yang menolak dipaksa dan diancam akan dibunuh termasuk adik-adiknya, ini membuat melati ketakukan dan akhirnya menurut saja, sejak ituMelati berubah menjadi anak yang pemurung. Sayangnya kejadian ini berulang terus menerus di lokasi yang sama.

Kejadian terakhir adalah jumat (18/6) saat ibunya sudah sangat curiga melihat sikap anaknya pulang dari kebun, Melatipun menceritakan semuanya yang membuat ibunya kaget dan langsung melapor ke Mapolsek Tambang, oleh pihak kepolisian dilakukan visum dan dari hasil vsum ternyata Melati memang sudah tidak perawan lagi dan tidak ada bekas luka artinya perbuatan itu sudah lama dilakukan dan berulang kali, akhirnya polsek Tambang meringkus sepelaku ‘’Awalnya dia tidak mengakui namun setelah ditunjukkan bukti dan saksi akhinrya mengaku juga ‘’ujar dedy

Untuk itu dedy berharap para orang tua terutama para ibu tidak begitu sama mempercayai anak perempuannya ya pergi bersama laki-laki walaupun ayah atau keluarga yang lain, karena bisa saja kejahatan terhadap sianak ****

Jangan Salah Gunakan Jaringan Internet


Penggunaan internet di Indonesia saat ini dalam situs pornografi sangat berkembang dibandingkan dengan tahun-tahun lalu, Dalam seminggu ada lebih dari 400 situs porno yang dibuat, di Indonesia penyebaran dan konsumsi pornografi sudah sangat parah hal ini benar-benar angka yang memprihatinkan. Demikian disampaikan Wakil Bupati Kampar H Teguh Sahono SP dalam acara pembukaan seminar sehari bagi pelajar tentang cara sehat berinternet (pengaruh situs porno terhadap kasus asusila yang terjadi pada anak) di Gedung Mahligai Bungsu Bangkinang, Selasa (22/6).

Di tambahkan Teguh Sahono dalam sambutannya bahwa pada tahun 2006 berdasarkan data internet pornografi statistic Indonesia menempati peringkat ketujuh pengakses kata “SEX” di internet. Sementara data googletrends posisi Indonesia meningkat pada peringkat kelima ditahun 2007 dan pada tahun 2008 dan 2009 indonesia masuk tiga besar yaitu diperingkat tiga.

Kemudahan mengakses budaya asing seperti banykanya Blue Film dengan mudah diakses di internet tampa ada filterisasi membuat remaja tergoda dengan hal-hal yang biasa membahayakan dirinya. Dalam sambutannya Teguh Sahono berpesan kepada para pelajar agar dapat nantinya memfilter kemajuan teknologi seperti internet dan menjadi motivator bagi seluruh pelajar untuk menangkal secara dini prilaku konsumtif terhadap dampak negatif dari internet khususnya situs porno.

Sementara itu kepala BPPKB Kabupaten Kampar Nuraisyah dalam sambutannya mengatakan dengan maraknya pertumbuhan warung-warung internet hingga kepelosok Desa untuk memenuhikebutuhan masyarakat, khususnya para pelajar sangatlah dampak positifnya namun demikian apabila penggunaan internet tersebut disaalahgunakan maka justru berdampak negaifve terhadap anak. Tampa pengawasan dan bimbingan dari Guru dan orang tua para pelajar akan menggunakan media internet tampa kendali.

Salah satunya internet menjadi media bagi siswa untuk mengkonsumsi pornografi dan ahirnya mereka akan terus ketagihan untuk mengakses pornografi atau situs porno. Pada acara seminar tersebut dihadiri peserta sebanyak 200 orang yang terdiri dari para pelajar SLTA dan SLTP serta guru bimbingan dan konseling.

Hadir pada acara tersebut Ketua Komnas Perlindungan Anak Propinsi Riau Arist Merdeka Sirait, Fasilator Unicef Bidang Anak dan Media Dedi Arianto, Narasumber dari KPAID Propinsi Riau Prof. Dr Neti\ti Herawati, M,Si, Ketua GOW Kabupaten Kampar Hj. Irhamayazit BA, Ketua P2TP2A Kab Kampar H. Sofian, SE ***

Kamis, 10 Juni 2010

Menyoal Buruknya Pelayanan Kesehatan Di Kampar



Slogan pelayanan Sopan, Senyum dan Sapa atau 3S yang banyak ditempel di lorong-lorong rumah sakit umum daerah Bangkinang (RSUD) Bangkinang atau seluruh puskesmas di kabupaten Kampar saat ini dipertanyakan, karena dari kenyataan yang ditemukan dilapangan pelayanan yang diterima masih buruk, ini terlihat dari banyaknya keluhaana masyarakat ketika mendapatkan pelayanan baik di RSUD maupun di puskesmas, bahkan ketika anggota komisi II DPRD Kampar melakukan sidak ke beberapa puskemas,para anggota komisi II menemukan banyak sekali persoalan kesehatan, mulai dari petugas medis yang jarang ditepat, perawat yang kurang senyum hingga sarana dan prasarana kesehatan yang tidak memadai, kondisi ini tentunya menjadi tanya Tanya, karena pemkab kampar saat ini menjadikan program kesehatan sebagai program prioritas Kampar tahun 2010.

Buruknya pelayanan kesehatan di Kampar memang menjadi tanda tanya banyak pihak bahkan salah satu anggota DPRD komisi II Hadi Warman menyatakan pelayanan kesehatan di Kampar masih sangat buruk, karena masyarakat sering mengeluhkan kurang ramahnya petugas, baik di rumah sakit maupun dipuskesmas ‘’Apalagi RSUD masih sering terdengar mengeluh, bantal tidak ada, obat yang susah dicari dan perawat yang bermuka masam ‘’ujarnya dan ini dibuktikan politisi Golkar ini saat mengunjungi puskemas Lipatkain Kampar Kiri beberapa waktu yang lalu. Insiden dengan salah seorang bidan di puskemas tersebut membuktikan buruknya pelayanan kesehatan di Kampar.

Bukan hanya itu rumitnya persoalan kesehatan ini juga berkait dengan pendanaan, minimnya pelayanan kesehatan juga dibarengi dengan buruknya sistim anggaran kesehatan, bayangkan saja pemkab Kampar saat ini masih berhutang Rp 800 juta dana jaminana kesehatan daerah (jamkesda) tahun 2009 yang membuat RSUD beralasan sulitnya memberikan pelayanan terutama untuk masyarakat miskin.

Namun kalau dilihat dari sisi pihak kesehatan sendiri, ternyata pelayana kesehatan merupakan target utama dari semua program yang dilaksanakan dinas kesehatan, kepala dinas kesehatan Kampar Herlyn Ramola SKM menyatakan pihaknya juga menjadikan pelayanan maksimal sebagai suatu goal yang harus dicapai. ‘’Kita memahami tuntutan untuk pelayana tersebut namun kita juga menghadapi banyak kendala ‘’ujarnya.

Kendala ini dijabarkan Herlyn dimulai dari minimnya petugas medis, saat ini Kampar mempunyai 27 Puskemas dengan 8 puskesmas rawat Inap dan 164 puskesmas pembantu yang ada di 164 desa. Sayangnya menurut Herlyn dari semua puskesmas ini belum memiliki petugas medis yang ideal sesuuai standar kesehatah, misalnya untuk puskemas rawat inap dibutuhkan setidaknya 4 dokter umum, 1 dokter gigi, 11 perawat, 6 bidan, 1 apoteker dan 1 tenaga SKM,tenaga ini diluar tenaga di pustu. Namun dari pengakuan Herlyn dari 8 puskesmas yang ada di Kampar belum satupun puskemas yang memiliki tenaga medis seperti ini. Saat ini Kampar memiliki 72 dokter umum. ‘’Jumlahnya sebenarnya sudah memadai namun penyebarannya tidak merata, contohnya di daerah perkotaan dokternya banyak sedangkan di Tapung bahkan hanya memiliki 1 dokter umum ‘’ujarnya. :Persoalan minim dan belum merata petugas medisnya suatu persoalan yang sulit dipecahkan.

Persoalan yang kedua adalah minimnya anggaran, untuk 27 puskesmas dan 164 pustu ini tentunya dibutuhkan dana yang besar apalagi pelayanan kesehatan di puskemas dan pustu diberikan gratis sesuai dengan Peraturan daerah, sayangya tuntutan ini tidak ditunjang dengan anggaran, tahun 2010 ini anggaran dinaskesehatan Kampar hanya mendapatkan alokasi dana sebesar Rp 12,7 M, angka ini jauh menurun dari tahun 2009 yang berjumlah Rp 24,5 M. padahal angka Rp 24, M saja masih membuat dinkes senin kamis dalam mengatur anggaran, karena selain untuk program kesehatan juga menmbayar honor bagi petugas medis yang belum PNS.

Padahal pemerintah sendiri melalui UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan sudah menyatakan jelas dalam pasal 171 ayat (2) Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji. (2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji.

Sementara itu APBD Kampar tahun 2010 mencapai Rp 1,4 Triliun sedangkan yang dianggarkan hanyalah Rp 12,7 M, Sungguh angka yang mengenaskan untuk tuntutan yang besar akan pelayanan yang maksimal.

Minimnya anggaran ini tentu saja mempengaruhi ketersediaan sarana dan prasaran kesehatan, maka tidak heran kalau disetiap puskesmas sulit menemukan tenpat tidur yang bagus dan nyaman, jangankan untuk kursi diruang tunggu yang empuk untuk sarana penting saja sangat minim, bahkan dari puluhan kendaraan puskemas keliling yang dimiliki Kampar saat ini hanya sekitar 4 atau l5 saja yang bisa jalan disebabkan kurangnya dana operasional dan perbaikan ketika kendaraan tersebut rusak.

Ini agaknya perlu menjadi perenungan bagi semua pihak terkait di Kampar terutama mereka yang duduk membicarakan dan menentukan anggaran, karena agak sulit mendapatkan hasil yang maksimal dengan anggaran yang minim, pepatah Kampar menyatakan: Manyuo Jo panyuo, artinya Jika kita menuntut sesuatu maka harus dibarengi dengan modal untuk sesuatu tersebut, tidak munkin memaksa mobil berjalan tanpa diisi bensin.

Namun sisi lain, para tenaga medis janganlah terlalu menjadikan minimnya anggaran ini sebagai alasan untuk buruknya pelayanan, munkin untuk obat perlu dana namun untuk senyum dan sapa tidak membutuhkan biaya sama sekali, dan senyum dokter dan perawat adalah obat manjur bagi pasien terutama mereka yang miskin ***

Design by Amanda @ Blogger Buster