Selasa, 02 September 2008

Kapolres Nyatakan Keprihatinan atas Dampak Balimau


*Tradisi harusnya disikapi dengan Bijak

BANGKINANG (RP), Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien menyatakan keprihatinnay atas kejadian tenggelamnya tiga korban di lokasi Balimau Kasai di desa Buluh Cina kecamatan siak Hulu (31/8), karena ini menurutnya membuat kegiatan yang harusnya membawa hikmah malah menjadi membawa petaka. ‘’sangat kita sayangnya apalagi ini adalah tradisi yang sebenarnya bagus namun malah menjadi ternodai, ‘’ujarnya
Dijelaskan Muttaqien pada dasarnya acara Balimau Kasai ini sangat bagus karena bermakna penyucian diri dengan saling memaafkan satu sama lainnya, dan terakhir dengan mandi untuk membersihkan fisik menyambut bulan ramadhan. Sayangnya nilai ini sudah bergeser, saat ini Balimau Kasai malah banyak yang berubah kearah hura hura, seperti mandu bersama, kebut kebutan di Jalan raya dan sebagainya sehingga membuat acara Balimau Kasai ini tidak lagi sesuai.

Sebagai aparat keamanan pihaknya sudah mencoba melaksanakan antisipasi dengan sebaik baiknya, misalnya untuk kegiatan Balimau kasai yang dilaksanakan di Batu belah dan sepanjang sungai Kampar dari XIII Koto Kampar ke Tambang dengan melakukan operasi oleh pihak Polwan dan polisi, menggunakan perahu karet para polisi ini menyisiri sungai untuk melihat situasi. Untuk di kecamatn Siak Hulu ini korban menurutnya adalah atlit renang yang harusnya bisa menjaja diri, namun ini adalah musibah.

Begitu juga dijalan raya, pihaknya sudah melakukan pengawasan langsung dijaan raya dengan menurunkan semua personil dalam satlantas, dan harus diakui aksi kebut kebutan sangat tinggi dalam hari Balimau sementara itu arus sangat padat. Dalam data sementara korban yang meninggal dijalan raya terdapat di Siak Hulu dan beberapa diantaranya masu rumah sakit.

‘’Inikan sikap keliru untuk mengekspresikan kegembiraan menyambut ramadhan, harusnya masyarakat tidak perlu kebut kebutan sheingga akhirnya malah mengorban nyawa mereka sendiri,’’ujarnya prihatin.

Untuk itu selama ramdhan ini Muttaqien mengimbau gara masyarakat apabila sore hari untuk mengurangi aktfiitas dijalan raya karena ini adalah jam jam sibuk yang membuat tingkat kerawanan berlalu lintas sangat tinggi ***

Atlet dan Pelatih Panahan Riau Ditemukan Tewas



BULUH CINA (RP) - Niken Saputra (33) dan Safrina Lailan (16), asisten pelatih dan atlet PPLP Panahan Riau, yang terseret arus sungai Desa Buluh Cina, Ahad (31/8) lalu, akhirnya ditemukan tewas Senin (1/9). Niken yang terseret saat menyelamatkan Safrina ditemukan sekitar pukul 13.30 WIB sedangkan Safrina lebih dahulu ditemukan dalam sekitar pukul 06.45 WIB.Pencarian kedua jasad keduanya kemarin menyita perhatian warga yang berbondong-bondong di tepian sungai. Apalagi hingga siang jasad Niken belum juga ditemukan.
Sementara jasad Safrina ditemukan warga yang sedang mencuci peralatan rumah tangga, sejak pukul 06.45 WIB. Kondisi ini menjadikan Tim SAR terus menyisir sungai mencari korban yang terserat arus saat melakukan Petang Balimau sehari sebelumnya itu.Sekitar pukul 13.30 WIB, sebuah speed berwarna putih, bermuatan kira-kira lima-enam orang terlihat bergerak menuju tempat kejadian. Tak lama berselang, salah seorang dari mereka menghubungi warga yang berada di tepian sungai sekitar anjungan pacu sampan melalui ponsel dan mengabarkan Niken sudah ditemukan. Warga yang dihubungi langsung mengabarkan pada tim SAR untuk segera mengangkat jenazah itu ke darat.
Mendengar desas-desus penemuan korban, warga yang berada di seberang berlarian menuju rakit untuk menyeberang. Beberapa saat, tim SAR yang membawa jenazah Niken terlihat dari kejauhan. Warga semakin penasaran dan berlarian menuju tim, saat mengangkat jenazah ke mobil ambulance. Niken sendiri ditemukan warga Umar S dalam kondisi tertelungkup. Korban hanya mengenakan celana katun panjang berwarna hitam dengan telanjang dada. Karena tidak punya keahlian untuk melakukan pertolongan, dia pun mengabarkannya kepada tim SAR. Umar mengatakan, kondisinya tidak terlalu parah, hanya bagian mata saja yang rusak dengan tubuh yang agak bengkak.
‘’Kami temukan jenazah dalam kondisi tertelungkup, mengapung di atas permukaan air, tidak jauh dari tempatnya tenggelam,’’ tutur Umar kepada Riau Pos, di sela-sela pengangkatan jenazah ke mobil ambulance. Dikatakannya, Safrina juga ditemukan warga Ruslaini (Guru MTs Desa Baru) yang sedang mencuci di tepian sungai. Kondisinya juga tidak terlalu parah. Ditemukannya kedua jenazah tersebut, selain melegakan warga desa juga pihak keluarga yang sudah pasrah menerima kenyataan pahit tersebut.
Niken Saputra tercatat sebagai staf di Sekretariat KONI dan Asisten Pelatih Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) Panahan Riau. Almarhum meninggalkan seorang istri Desi Diana dan seorang anak lelaki Josad yang bersekolah di TK Pertiwi. Usai ditemukan, jenazah langsung dibawa ke rumah duka dan dikebumikan di tanah pemakaman Kelurahan Tangkerang Barat, Jalan Kartama sekitar pukul 17.00 WIB.Pelatih PPLP Panahan Muslim yang menjadi pimpinan rombongan rekreasi tampak terpukul dengan mata berkaca-kaca. Dikatakannya, Niken sempat selamat dari arus yang menarik mereka ke bawah.
Melihat Safrina yang masih terseret arus, Niken yang telah diselamatkan Muslim justru melompat kembali untuk menolong gadis malang itu. Sayang, niat baiknya tidak berakibat baik baginya. Bahkan Niken lebih dulu lenyap ditelan air ketimbang Safrina yang akrab disapa Rina tersebut. ‘’Niken sempat menengadah ke langit sebelum di tarik arus ke bawah,’’ gumam Muslim dengan pandangan kosong dan wajah yang memerah.
Salah seorang atlet panahan Dides Irgantara (23) yang mengaku lebih dulu terseret arus mengatakan, dirinya sempat memperingatkan. Hanya saja Niken, Muslim, Nia dan Rina sudah terlalu jauh ke tengah dan langsung terseret arus. Awalnya, tidak hanya empat orang itu saja yang terseret arus tapi delapan orang. Mereka saling membantu satu sama lainnya.‘’Saya sudah berusaha memperingatkan, sebab saya baru lepas dari tarikan arus tersebut. Tapi mereka sudah jauh ke tengah sehingga sulit melawan arus yang begitu deras menarik ke bawah,’’ katanya.
Lebih jauh dijelaskan Dides, mereka tiba di Desa Buluh Cina sekitar pukul 11.00 WIB, Ahad (31/8). Jumlah anggota yang berangkat ke sana sebanyak 18 orang terdiri dari delapan atlet, dua pelatih dan orang tua atlet. Tidak hanya itu, salah seorang orang tua atlet yang juga terseret arus saat membantu anaknya. Keduanya selamat dari sergapan maut.Setelah kedua korban terbawa jauh, mereka berusaha menolak pompong yang digunakannya untuk mencari. 15 menit mencari dan berputra-putar di kawasan itu, keduanya tak juga ditemukan. Akhirnya, mereka meminta pertolongan kepada warga desa yang saat itu sedang melaksanakan lomba pacu sampan. Bersama warga, polisi dan tim SAR, mereka mencari jenazah semalaman dan ditemukan keesokan harinya.
Tampak Ketua Harian KONI Riau H Yuherman Yusuf dan jajarannya di rumah duka dan ikut serta pula menyolatkan Niken. Selain itu, juga terlihat beberapa insan olahraga baik atlet maupun pelatih serta Kepala Balai Pemuda dan Olahraga Dispora Riau Drs H Sanusi Anwar. Sementara itu usai ditemukan jenazah Syafrina Lailan, Senin (1/9) siang sekitar pukul 11.53 WIB, tiba di rumah duka di Perumahan Sidomulyo Blok F, Nomor 182, Jalan Camar I, RT 04/RW 12, Kelurahan Maharatu, Kecamatan Marpoyan Damai.
Sebelum dibawa ke rumah duka, jasad korban sempat diistirahatkan di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Provinsi Riau, Jalan Ampi, Pekanbaru. Karena memang semasa hidupnya, Syafrina adalah salah satu atlet panahan Riau.Ibunda korban, Butet, yang mengenakan baju kurung warna hijau dan jilbab warna hitam lebih banyak diam. Bibirnya bergetar keras menyaksikan anak kebanggaan keluarga itu pulang ke rumah dalam keadaan sudah tak bernyawa.
Saat dihampiri Riau Pos, tidak satu pun kata yang keluar dari bibirnya. Ibu empat anak ini lebih memilih diam dan duduk bersimpuh di samping tubuh anaknya yang terbungkus kain kafan.Tampak hadir melayat ke rumah duka perwakilan pengurus KONI Fadlah Suhaimi, Kepala SMAN 2 Siak Hulu Drs Abdul Hamid, pengurus masjid Muhajirin Asmadi S, dan sejumlah rekan-rekan almarhumah dari SMAN 2 Pekanbaru serta rekan sesama atlet.Suasana duka begitu menyelimuti rumah orang tua Syafrina siang itu.
Menjelang keberangkatan jenazah menuju peristirahatan terakhir, terlihat hadir drh Chaidir MM, mantan Ketua DPRD Riau yang datang seorang diri dan hanya ditemani ajudannya. Chaidir berjalan kaki beberapa puluh meter dari ujung gang menuju rumah duka. Dalam sambutannya Kepala Sekolah SMAN 2 Siak Hulu, Drs Abdul Hamid yang diberi kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata mengatakan, selama dua bulan bergabung di SMAN 2 Siak Hulu, korban merupakan anak yang cerdas dan baik.
‘’Korban merupakan seorang siswa yang sangat berbakat, dia pintar dan pandai bergaul. Begitu juga setiap akan mengikuti latihan korban selalu minta pamit kepada saya. Tapi sepekan yang lalu ada suatu keanehan yang saya rasakan dari korban, yakni korban sempat menyerahkan sepasang wayang kepada saya. Padahal saya sendiri tidak mengerti apa maksud dari semua itu,’’ ungkap Abdul Hamid.
Sementara itu Chaidir meminta keluarga yang ditinggalkan agar tabah. Sebelum memegang mikrofon, Chaidir menghampiri orang tua korban. Ia menyalami Butet yang tengah duduk di kursi plastik dalam keadaan lemah. Chaidir mengucapkan turut berduka cita yang mendalam dan mengharapkan ibunda Syafrina bisa tabah dalam menjalani cobaaan.‘
’Kita semua merasakan duka yang mendalam atas kepergian anak kita, saudara kita dan atlet kita ananda Syafrina. Semuanya ikut merasakan kehilangan. Riau telah kehilangan atlet masa depannya. Untuk itu marilah kita iringi keberangkatan almarhumah ini dengan doa. Mudah-mudahan ia diberikan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Saya sekeluarga turut mendoakan almarhumah,’’ antara lain ucapan Chaidir dalam sambutannya. Dalam kesempatan itu Chaidir bersama jemaah lainnya melaksanakan salat jenazah di masjid terdekat.(fed/ila/m)

Design by Amanda @ Blogger Buster