Selasa, 17 Juni 2008

Kampar Tertibkan Lansung PETI di Lipatkain




Kampar Kiri (rdh), Membuktikan janjinya kepada masyarakat Kampar bahwa pemerintah kabupaten Kampar sangat komit untuk memberantas penambangan emas tanpa Izin (PETI) maka senin (16/6) kemarin Bupati Kampar Drs H Burhanuddin Husin dengan seluruh unsure muspida turun lansung ke sungai sungai Kuansing dan sungai Kampar Kiri di kecamatan Kampar Kiri untuk melakukan penertiban. Turut serta dalam rombongan ini Ketua DPRD Kampar H Masnur SH, Kapolres Kampar AKBP H MZ Muttaqien SH SIK, Ketua Pengadilan Negeri Prim Haryadi SH, Dandim KPR Letkol Inf Suratno dan kepala dinas terkait, serta 300 personil petugas dari satuan Satpol PP, Polri dan TNI di Kampar.
Bupati Kampar Drs H Burhanuddin Husin MM usai apel persiapan untuk penertiban ini menyatakan kegiatan Penertiban PETI ini merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan di sungai Kampar Kiri dan Subayang dari pencemaran dan menyelamatkan Kampar dari penambangan illegal. sebelumnya pemerintah sudah melakukan tindakan persuasive dengan melakukan sosialisasi larangan penambangan ini. ‘’dan dalam sosialisasi itu kita sudah menyampaikan bahwa mereka sudah harus menghentikan kegiatan penambangan ini selambatnya tanggal 16 Juni yang jatuh pada hari ini, dan hari ini kita akan lakukan penertiban, ‘’ujarnya.
Untuk itu setiap penambangan yang masih beroperasi maka peralatannya akan ditarik ke kelurahanLipat kain untuk selanjutnya dicari pemiliknya, namun untuk penemuan pertama mereka akan diberi peringatan terlebih dahulu dan diminta untuk menandatangani perjanjian, bahwa mereka tidak akan melakukan penambangan liar lagi. ‘’dan kalau masih kita temukan lagi maka kita akan kenakan tindakan pidana, untuk itu petugas akan bekerja selama tiga hari untuk menyisir sungai dan membersihkan sungai Kampar kiri dari PETI ini, ‘’ujarnya. Burhan juga menjelaskan bahwa dari laporan camat setempat PETI yang beroperasi di Kampar awalnya berjumlah sebanyak 62 kelompok (rakit) namun setelah disosialisasikan yang aktif hanya 35 rakit saja.
Namun dalam penyisiran yang dilakukan sore kemarin selama penyisiran dari jembatan Kpr di sungai Kuansing Dusun Napan kelurahan Lipat Kain selatan kecamatan Kampar kiri hingga jembatan Lipat Kain sejauh 5 KM ditemukan setidaknya 52 rakit milik penambang, dan empat rakit diantaranya kosong dari peralatan.
Rakit rakit tersebut segera ditarik oleh petugas ke lipat kain, para pemilik rakit hanya memandang pasrah melihat hal ini, namun ada beberapa warga yang merasa kurang terima akhirnya malah membakar rakit milik mereka sehingga tidak bisa ditarik oleh petugas.
Burhan meminta agar masyarakat dapat melaksanakan penertiban ini, karena pada dasarnya kegiatan PETI ini tidak memberikan keuntungan kepada masyarakat melainkan hanya keuntungan hanya kepada pemilik modal, sedangkan masyarakat hanya pekerja. Sementara dampak dari kegiatan PETI ini adalah rusaknya lingkungan di sepanjang sungai Kampar Kiri yang selama ini menjadi tempat mencari kehidupan bagi para nelayan, serta untuk memenuhi kebutuhan air. ‘’tentunya butuh waktu yang lama untuk merecovery kondisi ini, ‘’ujarnya.
Sementara itu Ketua WALHI Riau Jhoni S Mundung di lokasi menyatakan mendukung dan menyambut positif langkah penertiban yang diambil oleh Pemkab Kampar, dengan penertiban ini setidaknya langkah awal untuk menyelamatkan lingkungan dan kehidupan masyarakat sudah dimulai. namun tidak hanya cukup dengan langkah itu saja. ‘’karena pemerintah juga harus mencari langkah lain untuk segera merehabilitasi kondisi air, untuk mengembalikan warna sungai yang sudah keruh ini dibutuhkan waktu setidaknya enam hingga tujuh tahun, kondisi ini yang harus difikirkan juga, ‘’sarannya. (rdh)

Ayah Tiri Cabuli Anak Tirinya

BANGKINANG (rdh) Nasib malang selalu menimpa anak anak tak berdaya, seperti nasib yang dialami oleh Bunga bocah 13 tahun warga warga Letnan Boyak kota Bangkinang kabupaten Kampar Riau. Bunga diperkosa ayah tirinya berinisial Ji (52) dari perkawinan tersangka dengan istri ketiganya MH (32). Ji sendiri tertangkap basah oleh istrinya sendiri yang kalap dan langsung melaporkan suaminya ke Mapolsek Bangkinang kota .
Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien SH SIK yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Bangkinang kota Iptu Firdaus menjelaskan, selama ini sang Ibu MH bekerja sebagai tukang cuci pakaian tetangga, sementara suaminya JI yang sudah punya dua istri sebelum dirinya adalah seorang kuli bangunan di kecamatan XIII Koto Kampar salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Korban. siang itu (16/6) MH yang baru pulang dari mencuci baju tetangga begitu masuk rumah melihat suaminya menindih anaknya ke dinding seakan akan sodomi, setelah dilihat benar-benar ternyata suaminya sedang melakukan hubungan dengan anak perempuannya yang masih belia. Pemandangan ini membuatnya Kalap dan histeris, langsung ia memaki maki suaminya dan kegiatan asyik itupun bubar dan suaminya langsung kabur. MH langsung mengumpat-umpat suaminya dan melaporkan ke polisi dan mengejar JI yang akhirnya tertangkap di XIII koto kampar.
“ Tersangka sedang di periksa, sementara korban akan di tangani pihak Unit Pemeriksa Penyelidik Anak (PPA). Juga sedang di ambil visum guna melengkapkan dalam pemeriksaan tersangka.” Jelas Firdaus.
MH yang diwawancarai terus saja memaki suaminya dan menyatakan akan memberikan hukuman yang sebeart beratnya karena lelaki yang diharapkan menjaga anaknya malah ternyata menghancurkan masa depan anaknya . ****

“ Tergoda karena Anak Saya Yang Menggoda”

Pengakuan tersangka JI , pelaku Pemerkosa anak Tiri di Kampar

BANGKINANG (dyt) Tersangka terlihat seperti tidak menyesali perbuatan yang di lakukan, duduk di kursi ruang pemeriksaan. Tersangka terus menerangkan kejadian yang di lakukan terhadap anak tirinya dengan gambling dan tidak ada rasa penyesalan sedikitpun.
Menurut tersangka sendiri, dirinya baru empat kali melakukan hal serupa terhadap korban. Dan itu pun menurut tersangka korban yang menggodanya, lantaran tidurnya bersama korban dan istrinya bertiga.
Pertama saat di kamar mandi, menurutnya saat itu tidak sampai membuka pakaian korban hanya menggesek-gesekkan di bagian belakang korba.” Pertama kali saya lakukan di kamar mandi tanpa membuka celana korban, memang sampai keluar.” Terangnya.
Dan setelahnya tersangka melakukan di dalam kamar terkadang sambil berdiri, samapi aksinya di ketahui oleh ibu korban dan melaporkan dirinya
Tersangka pun dalam melakukan aksinya memilih bagian belakang karena menurutnya tidak beresiko, dan saat dirinya melakukan hal tersebut tidak sampai masuk hanya di gesekan saja di bagian belakang korban.
“ Tidak sampai masuk, hanya saya gesek-gesek saja sampai saya mengelurkan cairan. Saya takut kalau di depan nanti keterusan masuk dan bisa hamil.” Jelas Tersangka.
Dan setiap melakukan hal tersebut juga, tersangka selalu mengeluarkan cairan dan di biarkan menempel di celana korban dan bahkan terkena bagian tubuh korban. Dan pernah setelah melakukannya tersangka memberi uang Rp 4000.
“ Saya puas terhadap istri saya, seks kami normal. Namun karena korban yang menggoda dengan menempelkan tangannya ke badan saya. Dari kesemuanya saya juga sudah tidak ingat lagi tanggal berapa saya pertama kali melakukannya dengan korban.” Pungkas Tersangka ***

Tambang Emas Rusakkan Lingkungan



PETI timbulkan Pencemaran di Sungai Kampar

KAMPAR KIRI (rdh) Penambangan emas tanpa izin (PETI ) yang berlangsung sejak awal tahun 2008 ini di sepanjang sungai Kampar Kiri dan sungai Subayang telah membuat sungai ini tercemar, penggunaan air raksa dan mercury oleh ratusan penambang tanpa izin membuat sungai yang dulunya jernih menjadi keruh dan berwarna kuning. Air sungai ini juga berbau dan menimbulkan gatal gatal apabila menyentuhnya.
‘’sungai ini dulunya jernih namun sekarang berubah warna, air menjadi rusak dan tercemar karena adanya mercury ini, ‘’ujar Ketua Walhi Riau Joni S Mundung kepada Riau Pos saat mengikuti penertiban PETI di sepanjang sungai KUansing dan Kampar Kiri di kecamatan Kampar Kiri (16/6).
Penambangan yang dilakukan dengan cara menyedot air sungai dan menyuling butiran emas ini dan mengikatnya dengan raksa dan mercury juga membuat sungai yang dulunya dalam dan mempunyai permukaan yang tenang, sekarang berubah menjadi dangkal dan berbukit bukit pasir sehingga menyulitkan masayarakat yang menggunakan sungai ini sebagai sarana transportasi.
Penambangan ini menurutnya dimulai dari sungai Kuasing yang menghilir terus ke sungai Kampar Kiri dan sungai Subayang, akibatnya ikan ikan yang dulunya menjadi sumber pencaharian penduduk banyak yang mati dan membuat nelayan kesulitan. masyarakat sudah menolak dan bahkan sempat terjadi perkelahian fisik antara masyarakat dengan penambang.
Namun para pemodal yang umumnya berasal dari jawa Barat dan Jambi ini sangat cerdik, mereka menggunakan beberapa masyarakat tempatan untuk tameng sehingga bentrokan terjadi antara masyarakat itu sendiri, mereka yang bekerja kepada penambang tentu saja tidak mau mata pencaharian mereka yang baru akan hilang begitu saja. ‘ini kondisi yang sulit, namun pemerintah harus tegas’’ujarnya.
akibat dari pencemaran ini adalah masyarakat mengalami gatal gatal usai mandi disungai tersebut, dan dikhawatirkan mereka akan mengalami penyakit lain. ‘’karena tidak akan terdeteksi dalam waktu cepat apabila air itu terminum, namun bisa menyebabkan kanker bahkan bayi yang dikandung menjadi cacat, ‘’ujarnya. Masyarakat sekitar sudah melapor ke pemerintah setempat beberapa waktu yang lalu dan senin (16/6) Pemkab Kampar melakukan penertiban.
Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan kondisi ini, setidaknya butuh waktu lima hingga enam tahun untuk menetralkan kondisi air ini, karena pencemaran yang sudah sangat tinggi tentu saja membutuhkan waktu yang lama pula. ‘’untuk itu pemerintah harusnya mencari upaya lain untuk bisa membantu mempercepat pemulihan ini, ‘’ujarnya. (rdh)

Design by Amanda @ Blogger Buster